, ,

Tari Incling Senjata Rahasia Pengobar Semangat Juang di Balik Kemistikan Gunung Lanang

oleh -513 Dilihat

Tari Incling: Menyibak Rahasia Tarian Perlawanan yang Terkubur di Bumi Kulon Progo

Berita Yogyakarta- Di balik kemistikan Gunung Lanang dan hamparan hijau Kulon Progo, Daerah Istimewa Yogyakarta, tersimpan sebuah harta karun budaya yang bukan sekadar tontonan, tetapi adalah sebuah saksi bisu perjuangan bangsa. Ia adalah Tari Incling sebuah seni tradisional yang dahsyat, yang konon menjadi alat penggerak semangat juang melawan kolonialisme dan cikal bakal dari sistem pertahanan rakyat semesta.

Tari Incling Senjata Rahasia Pengobar Semangat Juang di Balik Kemistikan Gunung Lanang
Tari Incling Senjata Rahasia Pengobar Semangat Juang di Balik Kemistikan Gunung Lanang

Baca Juga : Efisiensi Anggaran, Yogyakata Batal Gelar Wayang Jogja Night Carnival

Baru-baru ini, dalam sebuah acara khidmat bertajuk “Doa Kebangsaan dan Peringatan Kemerdekaan Indonesia” di kompleks petilasan Gunung Lanang, Bayeman, Tari Incling kembali dihidupkan. Pementasan yang diselenggarakan atas swadaya murni masyarakat ini bukan sekadar peringatan, melainkan sebuah teguh tekad untuk mengingat jati diri bangsa di tengah tantangan zaman.

Lebih dari Sekadar Tarian, Simulator Medan Perang di Masa Lalu

Menurut Koordinator Acara, Toni Hari Prasetyo, pemilihan Tari Incling dalam acara tersebut sangatlah mendalam. Tarian ini memiliki sejarah panjang yang menyatu dengan napas kemerdekaan Indonesia.

“Incling ini adalah bagian dari strategi yang dibina oleh laskar Pangeran Diponegoro dalam perjalanannya menuju Bagelen (Purworejo),” jelas Toni. “Fungsinya adalah untuk menggugah semangat masyarakat, atau dalam istilah sekarang, membangun ‘pertahanan rakyat semesta’.”

Pada masa itu, berkumpul secara terang-terangan adalah hal yang mustahil dan berbahaya. Maka, para leluhur memiliki siasat yang brilian: menyamarkan latihan fisik dan taktik perang dalam bentuk kesenian. Gerakan-gerakan powerful dalam Tari Incling, yang penuh dengan adegan pertempuran, adalah sebuah simulasi untuk mempersiapkan mental dan fisik rakyat menghadapi kerasnya medan perang melawan penjajah.

Kisah Cinta dan Magis: Lakon di Balik Gerakan

Tari Incling, seperti dijelaskan oleh Witono, pengurus Paguyuban Incling Sekar Gulang, pada hakikatnya adalah varian dari seni Jathilan atau Kuda Kepang. Namun, yang membedakannya adalah pengemasan yang kaya akan lakon dan alur cerita rakyat.

Salah satu cerita yang sering dibawakan adalah kisah cinta epik Dewi Sekartaji dari Kerajaan Daha (Kediri) dan Raden Panji Asmarabangun dari Kerajaan Jenggala. Untuk memenangkan hati sang dewi, Raden Panji harus memenangkan sayembara yang hampir mustahil: menemukan dua ekor hewan yang bisa berbicara dan diadu. Petualangannya di Alas Roban yang mistis akhirnya membuahkan hasil, dan cinta pun bersatu.

Strategi Konsolidasi yang Jenius

Witono menerangkan bahwa kesenian ini sudah ada setidaknya sejak tahun 1928. Di era dimana ruang gerak dibatasi, Incling menjadi alat konsolidasi yang genius.

“Mengumpulkan massa saat penjajahan sangat berisiko, ancamannya adalah penangkapan,” terang Witono. “Nenek moyang kami punya ide cemerlang: berkumpul di balik kedok pertunjukan seni. Versi awalnya sangat sederhana, hanya tiga adegan, tetapi fungsinya sangat vital: mempersatukan rakyat tanpa menimbulkan kecurigaan.”

Warisan yang Berjuang untuk Tetap Hidup

Paguyuban Incling Sekar Gulang, yang namanya diambil dari kata ‘Sekar’ (bunga) dan ‘Gulang’ (singkatan dari Gunung Lanang), adalah salah satu pilar utama yang masih gigih melestarikan warisan luhur ini. Namun, perjuangan mereka tidak mudah.

Di tengah maraknya kesenian Jaranan, Tari Incling yang sarat nilai sejarah justru seperti terpinggirkan. Witono dengan lirih menyampaikan harapannya agar kesenian ini mendapat perhatian dan bantuan lebih dari pemerintah agar tidak punah tergerus zaman.

Keprihatinan ini diamini oleh Ketua DPRD Kulon Progo, Aris Syarifuddin, yang hadir dalam pementasan tersebut. Ia mengapresiasi semangat gotong royong masyarakat yang ‘nguri-nguri’ (melestarikan) budaya tanpa bergantung sepenuhnya pada Dana Keistimewaan (Danais).

“Ini adalah bentuk kecintaan pada budaya yang patut dicontoh,” ujarnya. Namun, Aris juga mengaku prihatin. “Di Kulon Progo, dari Temon hingga Samigaluh, ada ratusan kelompok seni tradisional dan religius. Sayangnya, belum semuanya terfasilitasi oleh Danais. Pemotongan dana tersebut tentu sangat berdampak pada kelangsungan seni, budaya, dan adat istiadat di Bumi Binangun ini.”

Tari Incling adalah lebih dari sekadar tari. Ia adalah simbol kecerdikan, ketabahan, dan semangat gotong royong nenek moyang kita. Ia adalah sebuah narasi perlawanan yang dibungkus dengan keindahan gerak dan cerita. Melestarikannya bukan hanya tentang menjaga sebuah pertunjukan, tetapi tentang menghormati setiap keringat dan strategi yang pernah diperjuangkan untuk meraih kemerdekaan yang kita nikmati hari ini.

Dior

No More Posts Available.

No more pages to load.